Mau Berwakaf Tanah? Ketahuilah Pengertian, Hukum dan Syaratnya
  • Post author:
  • Post category:Wakaf

Kata atau kalimat wakaf tentunya sudah tidak asing lagi dalam telinga kita, namun sedikit orang yang paham lebih dalam tentang pengertian, hukum bahkan syarat-syarat wakaf, sehingga akibatnya Wakaf sering siartikan secara sempit sebagai salah satu bentuk sumbangan sedekah biasa. Maka perlu edukasi khusus tentang Wakaf sebagai suatu istilah syariat yang memiliki hukum dalam Islam agar ibadah wakaf ini mendapatkan kejelasan pelaksanaannya menurut Islam dan bisa meminimalisir penyalahgunaan dan penggugatan dalam harta/barang yang diwakafkan.

Di sini akan sedikit dibahas tentang Wakaf, dengan harapan sebagai pengetahuan bagi para calon wakif /orang yang bermaksud berwakaf maupun untuk nadzir sendiri sebagai pengelola amanah barang/harta wakaf.

Berikut poin-poin yang saya sajikan dalam mengulas tentang wakaf:

1. Wakaf Adalah

  • Pengertian Wakaf & Hukum Wakaf
  • Perbedaan Wakaf dengan Zakat dan Infak

2. Mengenal Wakaf Tanah

3. Jenis-Jenis Wakaf

  • Wakaf Berdasarkan Peruntukannya
  • Wakaf Berdasarkan Jenis Hartanya
  • Wakaf Berdasarkan Waktunya
  • Wakaf Berdasarkan Penggunaan Objeknya

4. Syarat Sah Wakaf

  • Al-Waqif
  • Al-Mauquf
  • Al-Mauquf ‘Alaih
  • Sighah

5. Tata Cara Melakukan Wakaf

6. Aturan Hukum Wakaf Bangunan dan Tanah

Yuk, kita cari tahu lebih dalam. Siapa tahu Anda menjadi tertarik untuk mengamalkannya setelah membaca penjelasannya di artikel ini.

1. Wakaf Adalah

 Wakaf ditinjau dari pandangan ahli agama amatlah luas dan rinci definisinya. Salah satu pendapat yang dapat merangkumnya secara luas ialah dari pandangan Mazhab Hanafi seperti yang dilansir Badan Wakaf Indonesia, adalah;

 “menahan suatu benda yang menurut hukum, tetap di wakif (orang yang mewakafkan) dalam rangka mempergunakan manfaatnya untuk kebajikan”.

Berdasarkan definisi itu maka pemilikan harta tidak lepas dari wakif, bahkan orang tersebut dibenarkan menariknya kembali dan boleh menjualnya.  Jika wakif meninggal dunia, harta tersebut menjadi harta warisan untuk ahli warisnya. Tujuannya adalah menyedekahkan manfaatnya kepada suatu pihak kebajikan (sosial), baik sekarang atau pun yang akan datang.

Sedangkan definisi wakaf menurut UU no. 41 tahun 2004 adalah;

“suatu perbuatan hukum oleh pihak yang melakukan untuk memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda atau aset miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu untuk keperluan ibadah atau kesejahteraan umum sesuai ketentuan agama Islam”.

  • Pengertian Wakaf & Hukum Wakaf

Kata wakaf berasal dari bahasa Arab, waqf yang berarti menahan, berhenti, atau diam. Maksud dari menahan adalah untuk tidak diperjualbelikan, dihadiahkan, atau diwariskan. Menurut istilah syar’i, wakaf adalah;

“suatu ungkapan yang mengandung penahanan harta miliknya kepada orang lain atau lembaga dengan cara menyerahkan suatu benda yang kekal zatnya untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan”.

Pada dasarnya, hukum wakaf adalah sunnah. Hal ini merujuk pada Al-quran surah Al-Hajj ayat 77 dan Ali Imran ayat 92.

Sementara berdasarkan hukum positif, wakaf diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 42 tahun 2006 mengenai Pelaksanaan Undang-undang No. 41 tahun 2004.

  • Perbedaan Wakaf dengan Zakat dan Infak

Dalam kehidupan sehari-hari agama mengajarkan untuk umatnya agar saling tolong menolong dan memberi. Dalam setiap penghasilan atau rezeki yang didapat terdapat sebagian hak orang lain yang lebih membutuhkan untuk disalurkan. Kegiatan amal tersebut diwujudkan dalam bentuk zakat, infaq atau wakaf.

Zakat, infak, dan wakaf pada dasarnya memiliki konsep dasar yang sama yaitu  mengeluarkan harta untuk diberikan kepada yang berhak. Namun, sebetulnya pada praktiknya ketiganya merupakan bentuk amal jariyah yang berbeda. Zakat merupakan ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap umat muslim yang mampu. Zakat dikeluarkan berdasarkan aturan dan standar tertentu. Zakat terbagi ke dalam dua jenis, akat fitrah yang dikeluarkan sebelum shalat Idul Fitri dan zakat maal yang dikeluarkan satu tahun sekali jika harta sudah mencapai jumlah tertentu atau nisab.

Selanjutnya, infak merupakan bentuk sedekah harta benda yang dapat dilakukan kapan pun dan dengan jumlah yang tidak ditentukan. Sedangkan wakaf bersifat sunnah, merupakan bentuk sedekah harta benda yang nilainya harus dikembangkan secara syariah. Harta yang diwakafkan harus terus mempunyai nilai guna bagi banyak orang bahkan hingga orang yang mewakafkan meninggal dunia.

 

2. Mengenal Wakaf Tanah

Salah satu bentuk harta yang manfaatnya besar dan paling umum untuk disedekahkan bagi kepentingan umum adalah tanah. Tanah dapat dipergunakan untuk membangun tempat ibadah, lembaga pendidikan agama, atau bahkan area pemakaman. Nilai guna tanah tidak termakan waktu dan dapat digunakan hingga terus menerus. Wakaf tanah dapat berupa hak guna secara penuh atau sebagian dengan batas waktu tertentu.

Secara hukum, wakaf tidak berbeda dengan amal jariah, yaitu menyedekahkan harta benda pribadi untuk kepentingan umum. Namun, jika dilihat dari sifatnya, wakaf tidak sekedar berbagi harta seperti kegiatan amal pada umumnya. Wakaf memiliki nilai manfaat yang lebih tinggi dan mampu menjangkau lebih banyak orang.

Tanah wakaf adalah tanah hak milik yang sudah diwakafkan. Perwakafan tanah hak milik merupakan suatu perbuatan hukum yang suci, mulia dan terpuji yang dilakukan oleh  seseorang atau badan hukum, dengan memisahkan sebagian dari harta kekayaannya yang berupa tanah hak milik dan melembagakannya untuk selama-lamanya menjadi wakaf sosial.

Dasar hukum dari perwakafan tanah milik dapat ditemukan di Pasal 49 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (selanjutnya disebut UUPA).

Tanah, bangunan masjid, atau pemakaman mungkin menjadi bentuk yang paling umum diketahui. Sebetulnya terdapat beberapa jenis harta lain yang dapat dijadikan wakaf. Untuk mengetahuinya berikut pembagian jenis-jenis wakaf:

 

3. Wakaf Berdasarkan Peruntukannya 

Wakaf Ahli (dzurri atau ’alal aulad)  Untuk kepentingan dan jaminan sosial dalam lingkungan keluarga dan kerabat sendiri. 
Contoh Wakaf Ahli (dzurri atau ’alal aulad)  Harta yang disumbangkan hanya dapat dimanfaatkan oleh keluarga besar demi kebaikan. 
Wakaf Khairi (kebajikan)  kepentingan agama atau masyarakat (kebajikan umum). 
Contoh Wakaf Khairi   tanah yang disumbangkan untuk membangun prasarana bangunan kesehatan gratis atau area pemakaman. 
  • Wakaf Berdasarkan Jenis Hartanya

Berdasarkan jenis hartanya, dilansir dari laman Zakat.or.id, wakaf dibagi ke dalam tiga kelompok yang meliputi:

Kelompok Zakat Pertama benda tidak bergerak atau benda seperti misalnya bangunan
Kelompok Zakat Kedua benda bergerak selain uang seperti alat perlengkapan usaha yang dapat digunakan setiap hari
Kelompok Zakat Ketiga benda bergerak berupa uang
  • Wakaf Berdasarkan Waktunya
Muabbad diberikan untuk selamanya. Hak kepemilikan harta sepenuhnya diserahkan demi kebaikan umat tanpa batas waktu.
Mu’aqqot, diberikan hak guna  dalam jangka waktu tertentu. Selama jangka waktu yang diberikan benda, tanah, atau uang harus dimanfaatkan untuk mendapat nilai tambah untuk kepentingan sosial.
  • Wakaf Berdasarkan Penggunaan Objeknya
Ubasyir atau dzati obyek wakaf yang bermanfaat bagi pelayanan masyarakat dan bisa digunakan secara langsung, contohnya pondok pesantren, madrasah, dan rumah sakit.
Mistitsmary Objek wakaf yang ditujukan untuk penanaman modal dalam produksi barang-barang dan pelayanan yang dibolehkan syara’ dalam bentuk apapun, kemudian hasilnya diwakafkan sesuai keinginan wakif.

4. Syarat Sah Wakaf

Menurut hukum Islam, wakaf dikatakan sah apabila memenuhi dua persyaratan:

Pertama, tindakan atau perbuatan yang menunjukkan pada wakaf.

Kedua, mengungkapkan niatan untuk wakaf baik lisan maupun tulisan.

Berikut ini syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan wakaf secara sah.

  • Al-Waqif, Pewakaf harus cakap bertindak dalam memakai hartanya. Yang dimaksud dengan cakap bertindak antara lain merdeka, berakal sehat, dewasa, dan tidak dalam keadaan bangkrut.
  • Al-Mauquf
No Syarat Harta Benda yang Diwakafkan Dianggap Sah
1. Benda yang diwakafkan harus berharga atau bernilai.
2. Benda tersebut adalah milik pewakaf sepenuhnya.
3. Benda yang diwakafkan harus diketahui kadarnya.
4. Benda tersebut dapat dipindahkan kepemilikannya dan dibenarkan untuk diwakafkan.
  • Al-Mauquf ‘Alaih

Berdasarkan klasifikasi, ada dua macam pihak yang menerima manfaat wakaf (nadzir), yaitu pihak tertentu (mu’ayyan) dan pihak tidak tertentu (ghaira mu’ayyan). Maksud dari pihak tertentu adalah penerima manfaat merupakan seorang atau sekumpulan orang tertentu saja dan tidak boleh diubah. Sedangkan yang tidak tertentu adalah manfaat wakaf yang diberikan tidak ditentukan secara terperinci, contohnya kepada fakir miskin, tempat ibadah, dan lain-lain.

  • Sighah

Ini adalah syarat yang berhubungan dengan isi ucapan pada saat melakukan wakaf atau pernyataan pewakaf sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan harta bendanya. Syaratnya antara lain:

Ucapan harus mengandung kata-kata yang menunjukkan kekal, karena akan menjadi tidak sah jika ucapan mengandung batas waktu tertentu.

Ucapan bisa direalisasikan segera, tanpa ada syarat-syarat tambahan.

Ucapan bersifat pasti.

Ucapan tidak mengandung syarat yang bisa membatalkan

 

5. Tata Cara Melakukan Wakaf

Dalam perwakafan, secara umum berikut ini adalah tata caranya yang sudah diatur dalam Undang-undang.

Wakif atau pewakaf (perorangan ataupun badan hukum) menghadap nadzir (pihak penerima) di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW). PPAIW adalah pejabat berwenang yang ditetapkan oleh Kementerian Agama untuk membuat Akta Ikrar Wakaf (AIW). Jika wakaf dilakukan untuk jumlah tak tertentu, Nadzir tidak diwajibkan hadir.

Ikrar wakaf dilaksanakan oleh wakif kepada nadzir di hadapan PPAIW dengan membawa dua orang sebagai saksi.

Ikrar dapat dinyatakan secara lisan atau tulisan, serta dituangkan dalam AIW oleh PPAIW.

PPAIW menyampaikan AIW kepada Kementerian Agama dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk dimuat dalam register umum wakaf pada BWI.

Wakif wajib membawa dokumen sah dan asli atas harta atau aset yang ingin diwakafkan, contohnya sertifikat tanah, akta tanah, dan lain-lain serta surat pernyataan yang menyatakan bahwa tanah atau bangunan tersebut dalam keadaan tuntas dan bebas dari sengketa atau ikatan. Lengkapi dokumen tersebut dengan identitas diri yang telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang.

 

6. Aturan Hukum Wakaf Bangunan dan Tanah

Bangunan dan tanah adalah dua aset tidak bergerak yang sering dijadikan objek wakaf. Yang termasuk aset tidak bergerak di antaranya adalah tanah, rumah, kios, ruko, apartemen, bangunan komersil, bangunan sarana publik (sekolah, rumah sakit, klinik, tempat ibadah, dan lainnya). Jika Anda ingin mewakafkan bangunan dan tanah, pastikan benda tersebut dimiliki secara sah atau bebas sengketa hukum, bebas utang, dan telah memperoleh persetujuan dari ahli waris.

Bagaimana, apakah Anda mulai tertarik untuk mulai beramal setelah membaca artikel ini secara lengkap tentang pengertian, jenis, syarat, dan aturan hukum wakaf?. Nilai dari amal tidak dilihat dari besar kecil jumlah yang Anda berikan. Asal niatnya kuat wakaf Anda bisa menjadi sarana bagi untuk berkontribusi membangun kehidupan yang lebih sejahtera bagi orang-orang yang kurang beruntung saat ini.

Klik Gambar ini untuk berwakaf tanah

Oleh: Dedi Ahmad Ramdhani

Sumber: https://www.rumah.com

You are currently viewing Mau Berwakaf Tanah? Ketahuilah Pengertian, Hukum dan Syaratnya